Sabtu, 26 November 2011

MATERI TADRIB

= )كِتَابُ( أَحْكَامِ ( النِّكَاحِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ ) =
وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ : وَمَا يَتَّصِلُ بِهِ (مِنَ اْلأَحْكَامِ وَ اْلقَضَاياَ ) وَهَذِهِ اْلكَلِمَةُ سَاقِطَةٌ مِنْ بَعْضِ نُسَحِ اْلمَتْنِ , وَالنِّكَاحُ يُطْلَقُ لَغَةً عَلَى الضَّمِّ َوْالوَطْءِ وَاْلعَقْدِ , وَيُطْلَقُ شَرْعًا عَلَى عَقْدٍ مُشْتَمِلٍ عَلَى اْلأَرْكَانِ وَالشُّرُوْطِ ( وَالنِّكَاحُ مُسْتَحَبٌّ ِلمَنْ يَحْتَاجُ اِلَيْهِ ) بِتَوْقَانِ نَفْسِهِ لِلْوَطْءِ وَيَجِدُ أُهْبَتَهُ كَمَهْرٍ وَنَفَقَةٍ, فَإِنْ فَقِدَ َاْلأُهْبَةَ لَمْ يُسْتَحَبَّ لَهُ النِّكَاحُ
( وَيَجُوْزُ لِلْحُرِّ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ أَرْبَعِ حَرَائِرَ ) فَقَطْ إِلاَّ أَنْ تَتَعَيَّنَ اَلْوَاحِدَةُ فِيْ حَقِّهِ كَنِكَاحِ سَفِيْهٍ وَنَحْوِهِ مِمَّا يَتَوَقَّفُ عَلَى اْلحَاجَةِ. ( وَ ) يَجُوْزُ ( لِلْعَبْدِ) وَلَوْمُدَبَّرًا أَوْ مُبَعَّضًا أَوْ مُكَاتَبًا أَوْ مُعَلَّقًا عِتْقُهُ بِصِفَةٍ ( أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ اِثْنَتَيْنِ ) اَيْ زَوْجَتَيْنِ فَقَطْ ( وَلاَ يَنْكِحُ اَلْحُرُّ أَمَةً ) لِغَيْرِهِ ( إِلاَّ بِشَرْطَيْنِ عَدَمِ صِدَاقِ اْلحُرَّةِ )أَوْ فَقْدِ اْلحُرَّةِ أَوْ عَدَمِ رِضَاهَا بِهِ, ( وَ خَوْفِ اْلعَنَتِ ) أَيْ اَلزِّنَا مُدَّةَ فَقْدِ اْلحُرَّةِ. وَتَرَكَ اَلْمُصَنِّفُ شَرْطَيْنِ آخَرَيْنِ أَحَدُهُمَا : أَنْ لاَيَكُوْنَ تَحْتَهُ حُرَّةٌ مُسْلِمَةٌ أَوْ كِتَابِيَّةٌ تَصْلُحُ لِلإِْسْتِمْتَاعِ, وَالثَّانِي : إِسْلاَمُ اْلأَمَةِ اَلَّتِي يَنْكِحُهَا اَلْحُرُّ, فَلاَ يَحِلُّ ِلمُسْلِمٍ أَمَةٌ كِتَابِيَّةٌ, وَإِذَا نَكَحَ اَلْحُرُّ أَمَةً بِالشُّرُوْطِ اْلمَذْكُوْرَةِ ثُمَّ أَيْسَرَ وَنَكَحَ حُرَّةً لَمْ يَنْفَسِخْ نِكَاحُ اْلأَمَةِ. ( وَنَظْرُ الرَّجُلِ إِلَى اْلمَرْأَةِ عَلَى سَبْعَةِ أَضْرُبٍ ) ( أَحَدُهَا نَظْرُهُ ) وَلَوْ كَانَ شَيْخًا هَرَمًا عَاجِزًا عَنِ اْلوَطْءِ ( إِلَى أَجْنَبِيَّةٍ لِغَيْرِ حَاجَةٍ ) اِلَى نَظْرِهَا ( فَغَيْرُ جَائِزٍ ) فَإِنْ كَانَ النَّظْرُ لِحَاجَةٍ كَشَهَادَةٍ عَلَيْهَا جَازَ ( وَ الثَّانِي نَظْرُهُ ) أَيِ الرَّجُلِ ( إِلَى زَوْجَتِهِ وَ أَمَتِهِ فَيَجُوْزُ أَنْ يَنْظُرَ ) مِنْ كُلٍّ مِنْهُمَا (إِلَى مَا عَدَا اْلفَرْجَ مِنْهُمَا ) أَمَّا اْلفَرْجُ فَيَحْرُمُ نَظْرُهُ , وَهَذَا وَجْهٌ ضَعِيْفٌ,وَاْلأَصَحُّ جَوَازُ النَّظْرِ اِلَيْهِ لَكِنْ مَعَ اْلكَرَاهَةِ ( وَ الثَّالِثُ نَظْرُهُ إِلَى ذَوَاتِ مَحَارِمِهِ ) مِنْ نَسَبٍ أَوْ رَضَاعٍ أَوْ مُصَاهَرَةِ ( أَوْ أَمَتِهِ اْلمُزَوِّجَةِ فَيَجُوْزُ ) أَنْ يَنْظُرَ (فِيْمَا مَا عَدَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ) اَمَّا الَّذِيْ بَيْنَهُمَا فَيَحْرُمُ نَظْرُهُ ( وَ الرَّابِعُ اَلنَّظْرُ ) اِلَى اْلأَجْنَبِيَّةِ ( ِلأَجْلِ ) حَاجَةِ (النِّكَاحِ فَيَجُوْزُ ) لِلشَّخْصِ عِنْدَ عَزْمِهِ عَلَى نِكَاحِ إِمْرَأَةٍ َالنَّظْرُ ( إِلَى اْلوَجْهِ وَاْلكَفَّيْنِ ) مِنْهُمَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَإِنْ لَمْ تَأْذَنْ لَهُ اَلزَّوْجَةُ فِي ذَلِكَ, وَيَنْظُرُ مِنَ اْلأَمَةِ عَلَى تَرْجِيْحِ النَّوَوِي عِنْدَ قَصْدِ خِطْبَتِهَا مَا يَنْظُرُهُ مِنَ اْلحُرَّةِ ( وَ ْالخَامِسُ اَلنَّظْرُ لِلْمُدَاوَاةِ فَيَجُوْزُ) نَظْرُ الطَّبِيْبِ مِنَ اْلأَجْنَبِيَّةِ (إِلَى اْلمَوَاضِعِ الَّتِي يَحْتَاجُ إِلَيْهَا ) فِي ْالمُدَاوَاتِ حَتَّى مُدَاوَاةِ اْلفَرْجِ, وَيَكُوْنُ ذَلِكَ بِحَضْرَةِ مَحْرَمٍ اَوْ زَوْجٍ اَوْ سَيِّدٍ وَأَنْ لاَتَكُوْنَ هُنَاكَ اِمْرَأَةٌ تُعَالِجُهَا.( وَ السَّادِسُ اَلنَّظْرُ لِلشَّهَادَةِ ) عَلَيْهَا , فَيَنْظُرُ الشَّاهِدُ فَرْجَهَا عِنْدَ شَهَادَتِهَا بِزِنَاهَا اَوْ وِلاَدَتِهَا, فَإِنْ تَعَمَّدَ النَّظْرَ لِغَيْرِ الشَّهَادَةِ فَسَقَ وَرُدَّتْ شَهَادَتُهُ (أَوْ ) النَّظْرُ (لِلْمُعَامَلَةِ) لِلْمَرْأَةِ فِي بَيْعٍ وَغَيْرِهِ ( فَيَجُوْزُ النَّظْرُ) اَيْ نَظْرُهَا لَهَا . وَقَوْلُهُ : (اِلَى اْلوَجْهِ) مِنْهَا (خَاصَّةً) يَرْجِعُ لِلشَّهَادَةِ وَاْلمُعَامَلَةِ. ( وَ السَّابِعُ النَّظْرُ إِلَى اْلأَمَةِ عِنْدَ اِبْتِيَاعِهَا ) أَيْ شِرَائِهَا ( فَيَجُوْزُ) النَّظْرُ ( إِلَى اْلمَوَاضِعِ الَّتِي يَحْتَاجُ إِلَى تَقْلِيْبِهَا ) فَيَنْظُرُ أَطْرَافَهَا وَشَعْرَهَا لاَعَوْرَتَهَا.

Rabu, 18 Mei 2011

CATATAN NAHWU KELAS X MAKS

وَقَدِّمِ اْلأَخَصَّ........
Terjemah : Dahulukanlah dlomir yang lebih khusus dalam dlomir muttasil, dahulukanlah apa yang kamu kehendaki dalam dlomir munfasil

Penjelasan :
 Urutan kekhususan dlomir :
1. Dlomir mutakallim 2. Dlomir mukhothob 3. Dlomir ghoib
 Apabila kumpul 2 dlomir yang mahal nashab maka jika kedua dlomir tersebut berupa dlomir muttasil maka wajib mendahulukan yang yang paling khusus.
-Dlomir mutakallim kumpul dengan dlomir ghoib harus mendahulukan dlomir mutakallim contoh : أَعْطَيْتَنِيْهِ
-Dlomir mutakallim kumpul dengan dlomir ghoib harus mendahulukan dlomir mutakallim contoh : أَعْطَيْتُكَهُ
 Jika salah satu dari kedua dlomir tersebut dijadikan dlomir munfasil maka tidak ada keharusan mendahulukan dlomir yang paling khusus.
Contoh : أَعْطَيْتُكَ إِيَّاهُ / أَعْطَيْتُهُ إِيَّاكَ
وَفِي اتِّحَادالرُّتْبَةِ......
Terjemah ; Dalam dlomir yang sama tingkat kekkhususannya maka salah satunya wajib dijadikan dlomir munfasil , dan terkadang boleh dijadikan dlomir muttasil keduanya jika sama-sama dlomir ghoib.

Penjelasan :
 Jika ada 2 dlomir mahal nashab dan tingkat kekhususannya sama, misalkan sama-sama dlomir mutakalim atau sama-sama mukhothob atau sama-sama dlomir ghoib maka salah satunya wajib dijadikan dlomir munfasil:
Contoh ; أَعْطَيْتَنِيْ إِيَّايَ - أَعْطَيْتُكَ إِيَّاكَ – أَعْطَيْتُهُ إِيَّهُ
 Jika kedua dlomir tersebut sama-sama dlomir ghoib dan berbeda lafadlnya maka terkadang diperbolehkan dijadikan dlomir muttasil keduanya :
Contoh :الدِّرْهَمُ أَعْطَيْتُهُمَاهُ الزَّيْدَانِ
وَقَبْلَ يَا النَّفْسِ......
Terjemah : Diwajibkan menambah nun wiqoyah sebelum dlomir ya’ mutakallim yang bersamaan dengan kalimah fiil, adapun lafadl لَيْسِيْ (Tidak ada nun wiqoyahnya) itu hanya ada dalam nadhom

Penjelasan :
 Apabila ada dlomir ya’ mutakallim bersamaan dengan kalimah fiil maka sebelum ya’ mutakallim harus diberi nun wiqoyah, nun tersebut dinamakan nun wiqoyah karena menjaga kalimah fiil agar tidak dibaca kasroh.
Contoh : أَكْرَمَ منجادي أَكْرَمَنِيْ , فَعَلَ منجادي فَعَلَنِيْ

وَلَيْتَنِيْ فَشَا.....
فِيْ الْبَاقِيَاتِ.....

Terjemah : Dalam lafadl لَيْتَنِيْ (Diberi nun wiqoyah) itu lebih terkenal daripada lafadl لَيْتِيْ
Adapun untuk lafadl لَعَلَّ kebalikannya ( tidak ada nun wiqoyah( لَعَلِّيْ ) itu lebih terkenal dari pada diberi nun wiqoyah( لَعَلَّنِيْ ) ), Adapun selain لَيْتَ _ لَعَلَّ yaitu lafadl إِنَّ – أَنَّ – كَأَنَّ – لَكِنَّ boleh memilih antara diberi nun wiqoyah dan tidak diberi nun wiqoyah. Sedangkan untuk lafadl مِنْ – عَنْ wajib diberi nun wiqoyah sehingga harus dibaca مِنِّيْ – عَنِّيْ sedangkan dibaca مِنِيْ – عَنِيْ itu hanya dalam keadaan dlorurot
Penjelasan :
 Nadlom diatas menjelaskan tentang ya’ mutakallim yang bersambungan dengan kalimah huruf maka kalau dalam lafadl لَيْتَ lebih banyak diberi nun wiqoyah sedangkan dalam lafadl لَعَلَّ lebih banyak tidak diberi nun wiqoyah.
 Adapun selain keduanya maka boleh memilih antara diberi nun wiqoyah atau tidak diberi nun wiqoyah.
 Lafadl مِنْ – عَنْ jika disambung dengan ya’ mutakallim maka harus diberi nun wiqoyah.

وَفِيْ لَدُنِّيْ لَدُنِيْ.....
Terjemah : Dalam lafadh لَدُنْ yang banyak لَدُنِّيْ dan sedikit dibaca لَدُنِيْ , Sedangkan dalam lafadl قَدْ – قَطْ yang banyak digunakan adalah قَدْنِيْ – قَطْنِيْ dan sedikit dibaca قَدِيْ – قَطِيْ
Penjelasan :
 Dalam lafadl لَدُنْ - قَدْ – قَطْ lebih banyak diberi nun wiqoyah

Minggu, 15 Mei 2011

CATATAN USHUL KELAS X MAKS

CATATAN USHUL KELAS X MAKS

الرَّابِعُ : النَّهْيُ يَدُلُّ عَلَى فَسَادِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ فِيْ عِبَادَاتٍ
QOIDAH KEEMPAT : Larangan itu menunjukkan rusaknya perkara yang dilarang dalam masalah ibadah
Penjelasan ;
Qoidah tersebut berlaku jika larang tersebut kembali kepada perbuatannya ( لِعَيْنِ الْفِعْلِ ) seperti melarang orang yang khedl untuk melakukan sholat dan puasa, atau larangan itu kembali kepada sifat yang selalu ada pada apa yang dilarang ( لِوَصْفٍ لاَزِمٍ ( seperti melarang berpuasa di hari raya idul fitri dan idul adha karena hari raya itu mempunyai sifat yang tetap yaitu menjadi hari jamuan Allah terhadap hambanya, sehingga jika puasa pada hari raya itu berarti menolak jamuan Allah dan itu diharamkan.
Rosulullah bersabda : نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ صَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ . متفق عليه adapun kalau larangan itu karena adanya unsur dari luar yang dilarang ( لأَمْرٍ خَارِجٍ ) maka larangan itu tidak menunjukkan rusaknya ibadah tersebut, seperti larangan Rosulullah untuk sholat didekat kandang onta. Rosulullah bersabda : لاَتُصَلُّوْا فِيْ أَعْطَانِ الإِبِلِ . رواه الترمذي وصححه. Sebagian ulam’ berkata : Hikmah larangan sholat didekat kandang onta yaitu ada kemungkinan larinya onta sehingga terkadang jika onta itu lari maka akan mengganggu sholat bahkan bisa membatalkan sholat orang tersebut

الخَامِسُ : النَّهْيُ يَدُلُّ عَلَى فَسَادِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ فِيْ الْعُقُوْدِ
Qoidah kelima : Larangan itu menunjukkan rusaknya perkara yang dilarang dalam masalah akad.

Penjelasan :
Larangan tersebut di atas berlaku jika larangannya kembali kepada keadaannya akad tersebut bukan karena unsur dari luar akad tersebut, seperti larangan jual beli perkawinannya hewan jantan yaitu menjual sperma hewan jantan yang masuk ke hewan betina maka larangan tersebut kembali ke barang yang dijual dan barang yang dijual termasuk rukun jual beli, karena rukun jual beli ada 3 yaitu penjual pembeli, barang yang dijual belikan dan ijab qobul. Rasulullah bersabda :
نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَيْعِ الْمَلاَقِيءحِ . رَوَاه أبن ماجه