وَقَدِّمِ اْلأَخَصَّ........
Terjemah : Dahulukanlah dlomir yang lebih khusus dalam dlomir muttasil, dahulukanlah apa yang kamu kehendaki dalam dlomir munfasil
Penjelasan :
Urutan kekhususan dlomir :
1. Dlomir mutakallim 2. Dlomir mukhothob 3. Dlomir ghoib
Apabila kumpul 2 dlomir yang mahal nashab maka jika kedua dlomir tersebut berupa dlomir muttasil maka wajib mendahulukan yang yang paling khusus.
-Dlomir mutakallim kumpul dengan dlomir ghoib harus mendahulukan dlomir mutakallim contoh : أَعْطَيْتَنِيْهِ
-Dlomir mutakallim kumpul dengan dlomir ghoib harus mendahulukan dlomir mutakallim contoh : أَعْطَيْتُكَهُ
Jika salah satu dari kedua dlomir tersebut dijadikan dlomir munfasil maka tidak ada keharusan mendahulukan dlomir yang paling khusus.
Contoh : أَعْطَيْتُكَ إِيَّاهُ / أَعْطَيْتُهُ إِيَّاكَ
وَفِي اتِّحَادالرُّتْبَةِ......
Terjemah ; Dalam dlomir yang sama tingkat kekkhususannya maka salah satunya wajib dijadikan dlomir munfasil , dan terkadang boleh dijadikan dlomir muttasil keduanya jika sama-sama dlomir ghoib.
Penjelasan :
Jika ada 2 dlomir mahal nashab dan tingkat kekhususannya sama, misalkan sama-sama dlomir mutakalim atau sama-sama mukhothob atau sama-sama dlomir ghoib maka salah satunya wajib dijadikan dlomir munfasil:
Contoh ; أَعْطَيْتَنِيْ إِيَّايَ - أَعْطَيْتُكَ إِيَّاكَ – أَعْطَيْتُهُ إِيَّهُ
Jika kedua dlomir tersebut sama-sama dlomir ghoib dan berbeda lafadlnya maka terkadang diperbolehkan dijadikan dlomir muttasil keduanya :
Contoh :الدِّرْهَمُ أَعْطَيْتُهُمَاهُ الزَّيْدَانِ
وَقَبْلَ يَا النَّفْسِ......
Terjemah : Diwajibkan menambah nun wiqoyah sebelum dlomir ya’ mutakallim yang bersamaan dengan kalimah fiil, adapun lafadl لَيْسِيْ (Tidak ada nun wiqoyahnya) itu hanya ada dalam nadhom
Penjelasan :
Apabila ada dlomir ya’ mutakallim bersamaan dengan kalimah fiil maka sebelum ya’ mutakallim harus diberi nun wiqoyah, nun tersebut dinamakan nun wiqoyah karena menjaga kalimah fiil agar tidak dibaca kasroh.
Contoh : أَكْرَمَ منجادي أَكْرَمَنِيْ , فَعَلَ منجادي فَعَلَنِيْ
وَلَيْتَنِيْ فَشَا.....
فِيْ الْبَاقِيَاتِ.....
Terjemah : Dalam lafadl لَيْتَنِيْ (Diberi nun wiqoyah) itu lebih terkenal daripada lafadl لَيْتِيْ
Adapun untuk lafadl لَعَلَّ kebalikannya ( tidak ada nun wiqoyah( لَعَلِّيْ ) itu lebih terkenal dari pada diberi nun wiqoyah( لَعَلَّنِيْ ) ), Adapun selain لَيْتَ _ لَعَلَّ yaitu lafadl إِنَّ – أَنَّ – كَأَنَّ – لَكِنَّ boleh memilih antara diberi nun wiqoyah dan tidak diberi nun wiqoyah. Sedangkan untuk lafadl مِنْ – عَنْ wajib diberi nun wiqoyah sehingga harus dibaca مِنِّيْ – عَنِّيْ sedangkan dibaca مِنِيْ – عَنِيْ itu hanya dalam keadaan dlorurot
Penjelasan :
Nadlom diatas menjelaskan tentang ya’ mutakallim yang bersambungan dengan kalimah huruf maka kalau dalam lafadl لَيْتَ lebih banyak diberi nun wiqoyah sedangkan dalam lafadl لَعَلَّ lebih banyak tidak diberi nun wiqoyah.
Adapun selain keduanya maka boleh memilih antara diberi nun wiqoyah atau tidak diberi nun wiqoyah.
Lafadl مِنْ – عَنْ jika disambung dengan ya’ mutakallim maka harus diberi nun wiqoyah.
وَفِيْ لَدُنِّيْ لَدُنِيْ.....
Terjemah : Dalam lafadh لَدُنْ yang banyak لَدُنِّيْ dan sedikit dibaca لَدُنِيْ , Sedangkan dalam lafadl قَدْ – قَطْ yang banyak digunakan adalah قَدْنِيْ – قَطْنِيْ dan sedikit dibaca قَدِيْ – قَطِيْ
Penjelasan :
Dalam lafadl لَدُنْ - قَدْ – قَطْ lebih banyak diberi nun wiqoyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar